Haruska Kita Mencemaskan Remaja Yang Doyan Selfie

Haruska Kita Mencemaskan Remaja Yang Doyan Selfie

Berita Terbaru – Berpose sendiri atau selfie sekarang jadi hal yang wajar dikerjakan remaja. Walau demikian, orang-tua butuh waspada bila anaknya itu menyempatkan diri lumayan banyak untuk mengubah swafotonya sebelum diupload ke sosial media. Mengubah photo selfie serta benar-benar cermat pilih photo yang dipandang prima nyatanya berkaitan dengan self-objectification atau memandang dianya jadi objek. Ini bisa menyebabkan bodi shaming (tingkah laku memberi komentar fisik) dan membuat kuatir akan penampilannya.

Haruska Kita Mencemaskan Remaja Yang Doyan Selfie

“Self-objectification adalah pertimbangan jika kita ialah objek external untuk disaksikan oleh orang lain,” kata Jennifer Stevens Aubrey yang lakukan studi ini. Dia memberikan tambahan, keadaan itu membuat kita tetap pikirkan apa opini orang lain sebelum melakukan tindakan atau mengupload suatu hal di sosial media. “Fokus pada berpose selfie yang prima akan menggerakkan gadis remaja lihat diri mereka jadi external objek untuk disaksikan serta dikagumi orang,” tuturnya.

Aubrey lakukan penelitiannya dengan menganalisis hasil studi yang menyertakan 278 gadis remaja berumur 14-17 tahun. Beberapa responden itu isi survey online yang bertanya mengenai berapa seringkali mereka mengupload photo selfie serta berapa seringkali menggunakan aplikasi ubah photo, seperti membuat badan kelihatan lebih langsing atau muka lebih mulus.

Menurut Aubrey, remaja yang berpose selfie tidak butuh di kuatirkan sebab dampak negatifnya bukan berasal dari sana. Tetapi, remaja yang habiskan banyaknya waktu untuk mengubah fotonya serta merasakan dianya jadi objek, umumnya akan malu dengan penampilannya.

Rawan
Remaja wanita memang barisan yang rawan pada self-objectification dibandingkan remaja lelaki. Disamping itu, gadis remaja condong seringkali alami permasalahan dengan citra tubuhnya. Bila dibiarkan ini akan menyebabkan stres atau masalah makan. “Self-objectification ialah jalan ke arah beberapa hal yang dapat kita hindari. Interferensi dari orang-tua harus konsentrasi pada membesarkan hati remaja untuk lihat diri mereka bernilai lepas dari apa yang orang lain lihat,” tuturnya.

Orang-tua harus juga waspada “bendera merah” bila dalam hp remaja terdapat beberapa foto- photo selfie serta aplikasi mengubah photo. Bila remaja seperti terobsesi pada selfie, karena itu ini waktunya untuk mengajaknya bicara. “Mendiskusikannya dengan anak semenjak awal ialah langkah penting untuk menghindarkan permasalahan di masa datang,” tuturnya. Anak dapat juga dikasih pemahaman jika mengupload photo selfie sebaiknya mempunyai tujuan untuk share pengalaman, contohnya waktu di lokasi untuk berlibur atau sedang beraktivitas dengan rekan, bukan konsentrasi pada tampilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *